Khitbah

Bulan September 2012 telah berganti seiring berjalannya waktu. Namun bulan ini akan menjadi salah 1 saksi bersejarah dalam kehidupanku. Dimulai dari awal bulan ketika ana bisa wisuda s1, mesti sudah hampir di DO oleh kampus:mrgreen:

Di akhir bulan, tepatnya tanggal 29 dan 30 September kemarin, ana resmi melamar seorang anak putri kampung sebelah. Walaupun perkenalan/ta’aruf yang tergolong  singkat, namun ana memantapkan hati bahwa dialah calon pendamping hidup ini. Semoga Alloh SWT meridhoi hubungan ini. Tepat selepas maghrib malam ahad tgl 29 September 12, ana dan bapak datang melamar putri tersebut. Dengan diantar bebek hsx kesayangan, ana berboncengan dengan bapak. Tak sampai 5 menit,ana sudah sampai di depan rumahnya. Perasaan deg-degan dan gelisah bercampur jadi satu. Bapak pun segera matur kepada ayah sang gadis tentang maksud kedatangan kami. Alhamdulillah tanggapan keluarga putri sangat baik. Tetapi karena sesuatu hal, kegiatan lamaran tersebut belum tuntas pada malam itu.Selepas isya, kami pulang, karena ada agenda keluarga lain yang sudah menunggu

Sesampai di rumah, ana menghubungi putri yang ana lamar tentang agenda khitbah yang baru sj dilakukan. Ana memintanya untuk menanyakan kepada Ayahnya, apakah proses khitbah perlu diulang? Dan ternyata memang benar, jika ayahnya menghendaki proses khitbah untuk diulang.
Dengan kebulatan tekad, ana akan melamarnya lagi.  Saya bertekad untuk melamarnya sendiri. Ya Alloh, berilah hamba kekuatan untuk melewati hari esok.

Keesokan harinya, (Ahad, 30 September) dengan langkah yang ana kuat-kuatkan, ana menelusuri jalanan dengan hsx kesayangan.. Andai ia bisa bicara, tentu sepanjang jalan aku akan berkeluh kesah kepadanya. Sesampai di depan rumah sekitar pukul 10.20 wib,sang ayah sudah menunggu di depan rumah. Dengan hati yang berdegup kencang, ana mulai menyapa untuk mencairkan suasana. Tibalah saatnya, ketika ana harus matur kepada sang ayah dari si gadis. Alhamdulillah, dengan niat yang tulus, ana dapat matur kepada ayah sang gadis dengan lancar. Ayahnya pun menanggapi dengan baik dan ramah. Sesudah matur, sang putri yang saya lamar keluar membawa minuman teh hangat dan beberapa ku; satu, geplak pipih, kacang, dan buah kelengkeng. Tentu saja ibuk jg ikut keluar dan membawa makanan tersebut.

Kupinang kau dengan bismillah

Di ruang keluarga, sudah duduk aku, ayah  dan ibu sang putri, dan tentu anak gadis yang ingin saya lamar. Setelah menikmati hidangan sekedarnya, sang ayah pun menanyakan tentang kesediaan putrinya untuk dilamar. Dengan seksama, anamendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut anak gadis tersebut. Eh ternyata dijawab dengan anggukan dan senyuman saja.

Sayang aku melewatkan anggukan dan senyuman itu. Ibunyalah yang menyampai

kan maksud dari putrinya. “Piye nduk, kok malah gur manthuk karo mesem?” Dan alhamdulillah lamaran saya diterima. Terimakasih ya Alloh atas nikmatMu yang selalu tercurah kepada kami… Semoga hubungan ini selalu diiridhoi oleh Alloh SWT..

Sektar dua jam di rumahnya, saya memutuskan untuk pulang… setelah sebelumnya juga sempat membicarakan mengenai tanggal pernikahan…

Alhamdulillah… semoga bisa menjadi ibrah bagi kita semua

4 thoughts on “Khitbah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s